Dari Gizi ke Krisis: MBG Picu Keracunan Siswa SD, Copot Kepala SPPG”

oleh -354 Dilihat

BJINEWS.COM_JENEPONTO: Sebuah insiden kesehatan serius mengguncang dunia pendidikan di Kabupaten Jeneponto. Sebanyak 15 siswa Sekolah Dasar (SD) Kambutta Toa, Kacicci, Desa Tompo Bulu, Kecamatan Rumbia, dilarikan secara darurat ke puskesmas setempat pada Kamis (23/4/2026) setelah diduga mengalami keracunan makanan.

Peristiwa ini terjadi usai para siswa menyantap menu dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan dari Dapur SPPG Bontomanai, Kecamatan Rumbia. Program yang sejatinya bertujuan meningkatkan asupan gizi anak-anak justru berujung pada insiden yang memicu kekhawatiran publik.

Menanggapi kejadian tersebut, Bupati Jeneponto, Paris Yasir, segera mengambil langkah cepat dengan menginstruksikan Dinas Kesehatan untuk melakukan penanganan darurat.

“Saya sudah perintahkan Dinkes untuk segera mengambil tindakan, termasuk pihak puskesmas agar secepatnya ditangani dan dibantu identifikasi serta pelayanan lainnya,” tegasnya.

Instruksi tersebut langsung ditindaklanjuti oleh Kepala Dinas Kesehatan Jeneponto, Syusanti A. Mansyur, bersama tim Penanggulangan Suspect Keracunan (PSC), kesehatan lingkungan (Kesling), dan surveilans Kejadian Luar Biasa (KLB). Tim gabungan diterjunkan untuk membantu penanganan korban di Puskesmas Tompobulu sekaligus melakukan investigasi di Dapur SPPG Bontomanai.

Berdasarkan pemeriksaan awal, para siswa mengalami gejala umum keracunan makanan seperti pusing, sakit perut, mual, dan gatal-gatal setelah mengonsumsi menu MBG.

“Seluruh pasien saat ini telah mendapatkan penanganan medis. Sebanyak 15 siswa dirawat di PKM Tompobulu dan 1 siswa di Puskesmas Rumbia. Semuanya telah mendapatkan infus dan pengobatan,” jelas Syusanti.

Untuk memastikan penyebab pasti, Dinas Kesehatan telah mengambil sampel makanan dari dapur penyedia. Sampel tersebut akan diuji di laboratorium melalui pemeriksaan toksikologi dan mikrobiologi.

“Untuk sementara kita belum mengetahui penyebab pastinya. Kita masih menunggu hasil uji laboratorium,” tambahnya.

Di tengah penanganan kasus ini, muncul desakan keras dari berbagai pihak. Direktur D’Minang, Hardianto Haris turut memberikan kritik tajam atas insiden tersebut.

“Kasus keracunan makanan pada siswa ini,  yang diduga bersumber dari sajian menu makanan dari Dapur MBG merupakan bentuk kelalaian seluruh pihak yang terlibat dalam dapur MBG tersebut. Kejadian keracunan yang bersumber dari MBG, bukan yang pertama kali terjadi selama ada program MBG Untuk itu, dengan adanya kasus keracunan ini, pihak BGN wajib melakukan investigasi dengan baik dan benar, selain itu kepala SPPG dari dapur ini layak untuk dinonaktifkan. Kinerja harus dievaluasi karena kasus keracunan makanan bukan hal yang sepele, dapat menghilangkan nyawa siswa yang menjadi korban. Bukannya sehat, justru sakit,” tegasnya.

Insiden ini menjadi peringatan serius terhadap lemahnya pengawasan keamanan pangan, khususnya pada program pemerintah yang menyasar kelompok rentan seperti anak sekolah.

Dinas Kesehatan Jeneponto menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari sanitasi dapur, kualitas bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi makanan. Pengawasan terhadap kebersihan peralatan dan standar operasional dapur juga akan diperketat.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola Dapur SPPG Bontomanai belum memberikan keterangan resmi terkait kronologi dan dugaan penyebab kejadian tersebut.

Peristiwa ini menyisakan pertanyaan besar mengenai jaminan keamanan pangan dalam program bantuan sosial, sekaligus menjadi ujian bagi sistem pengawasan dan respons cepat sektor kesehatan di Jeneponto. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.