Persepsi Masyarakat Terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Untuk Anak Sekolah Di Kabupaten Jeneponto

oleh -24 Dilihat

ABSTRAK: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah merupakan salah satu langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan gizi pada anak, terutama di wilayah dengan prevalensi stunting yang tinggi seperti di Kabupaten Jeneponto. Meskipun program ini telah berjalan, persepsi masyarakat terhadap program makan bergizi gratis belum banyak diteliti secra mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pandangan masyarakat mengenai pelaksanaan program makan bergizi gratis di sekolah. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif melalui wawancara mendalam kepada orang tua murid, guru, serta tokoh
masyarakat di beberapa sekolah penerima program. Data dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat menilai program ini bermanfaat dalam mendukung pemenuhan gizi anak dan meringankan beban ekonomi keluarga, meskipun terdapat catatan kritis mengenai kualitas makanan dan variasi menu. Kesimpulan penelitian ini menyatakan bahwa persepsi masyarakat cenderung positif terhadap program makan bergizi gratis, namun evaluasi berkala tetap diperlukan guna meningkatkan kualitas pelaksanaan program. Kata kunci: Persepsi Masyarakat, Makan Bergizi Gratis, Anak Sekolah, Jeneponto, Program Gizi.

PENDAHULUAN: Anak pada usia sekolah masih dalam tahap bertumbuh dan berkembang sehingga cukup berisiko terkait masalah gizi. Adapun risiko jangka pendek yang dapat ditimbulkan, yaitu kondisi apatis pada anak, gangguan dalam berkomunikasi dan gangguan perkembangan lainnya. Sementara itu, risiko jangka panjang yang dapat terjadi bagi anak siswa yaitu menurunnya IQ, terjadi penurunan kognitif, gangguan integrasi sensorik, gangguan atensi, kurangnya rasa percaya diri, dan turunnya prestasi belajar anak (Saputri, M. et.al 2021). Gizi yang memadai sangat penting untuk perkembangan kognitif anak, menunjukkan korelasi yang kuat antara asupan gizi dan kemajuan psikomotor dan kognitif selama anak usia dini, Mikronutrien, termasuk zat besi, seng, vitamin B6, folat, vitamin B12, dan vitamin A, sangat diperlukan untuk perkembangan neurologis yang optimal dan peningkatan kognitif. Studi empiris menunjukkan bahwa suplementasi zat besi bersama dengan berbagai mikronutrien secara signifikan dapat meningkatkan fungsi kognitif pada anak-anak usia prasekolah (Annan, R. A., Apprey, C., at.el, 2019) Ada berbagai program pemerintah untuk memperbaiki gizi pada anak anak, terutama untuk menurunkan angka kejadian stunting. Program-program tersebut berupa pemberian tablet tambah darah pada remaja putri yang bersekolah, pemberian tablet tambah darah dan pemenuhan gizi pada ibu, pemberian imunisasi, ASI eksklusif dan pemberian protein hewani pada anak usia sekolah. Selain program-program tersebut, program pendidikan, edukasi dan promosi juga menjadi salah satu program untuk memperbaiki gizi pada anak dan untuk menurunkan angka kejadian stunting (Wulandari. F, 2023). Berdasarkan data UNICEF, 80% anak sekolah mengalami gejalah kurang gizi dan berimplikasi terhadap kejadian stunting, dan tersebar pada 14 negara di dunia dan Indonesia menduduki peringkat ke-5 negara dengan jumlah malnutrisi pada anak terbesar. Angka kejadian malnutrisi pada anak di Indonesia adalah 24,4% pada tahun 2021 dan mengalami penurunan menjadi 21,6% pada tahun 2022. Angka tersebut menunjukkan bahwa pemerintah telah berupaya kuat untuk melakukan program perbaikan gizi pada anak.
Meskipun demikian angka penurunan tersebut masih cukup jauh dari standar WHO (Wuhan, Simarmata, et.al, 2024). Tahun 2025 Presiden RI Prabowo Subianto bersama Wapres RI Gibrang Rakabuming telah mulai mencanangkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa sekolah, dengan target sasaran anak sekolah tingkat PAUD, SD, SMP, SMA dan diproyeksikan target ini mencapai 15 juta orang pada akhir tahun 2025 (Kemendikbud, 2025). Hal ini dilakukan untuk meningkatkan asupan gizi dan nutrisi pada siswa sekolah, meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan untuk mempercepat pencapaian Indonesia Emas 2045. Program Makan Bergizi Gratis di sekolah telah diterapkan di berbagai negara seperti di Jepang pelaksanaan makan siang di sekolah lengkap yang terdiri nasi, lauk dan susu, hal tersebut telah meningkat dari tahun ke tahun, dan berdasarkan jumlah sekolah di Jepang, SD mendominasi sebesar 98,8%, SMP 89,8%, dan Sekolah berkebutuhan khusus 88,9%. Dengan rincian SD Negeri 99,5%, SMP Negeri 97,1%, SD Swasta 43,4%, dan SMP Swasta 8,2% (Auliawan, 2025) Program Makan Bergizi Gratis sebagai bentuk intervensi yang bertujuan untuk memastikan bahwa semua siswa, tanpa memandang latar belakang ekonomi, mendapatkan akses yang cukup dan konsisten terhadap makanan bergizi (Cohen, J. F. W., et,al, 2021). Penelitian yang menunjukkan bahwa program makan gratis di sekolah dapat berkontribusi positif terhadap status gizi siswa, memberikan efek protektif dalam hal Indeks Massa Tubuh (IMT) dan kadar hemoglobin, menurunkan serta prevalensi anemia, dengan menyajikan makanan yang sehat secara rutin, program-program ini tidak hanya meningkatkan gizi individu tetapi juga mempengaruhi kesehatan masyarakat secara keseluruhan, mendukung tujuan keberlanjutan dalam program gizi anak (Pentingnya memahami persepsi masyarakat terhadap program Makan Bergizi Gratis pada anak sekolah di Kabupaten Jeneponto menjadi bagian krusial dalam menilai keberhasilan program, khususnya dalam kaitannya dengan peningkatan status gizi anak-anak di berbagai konteks. Dampak program makan gratis di sekolah pada kinerja akademis siswa juga telah menjadi fokus perhatian dalam banyak penelitian. Beberapa studi melaporkan adanya peningkatan tingkat kehadiran dan prestasi akademik di antara siswa yang mengikuti program ini, namun terdapat pula temuan yang menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Berdasarkan survei awal peneliti di Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, program Makan Bergizi Gratis telah mulai diterapkan di 10 sekolah dengan jenjang pendidikan berbeda, meliputi PAUD, SD, SMP, SMA, dan SMK, dengan jumlah siswa yang bervariasi. Penelitian ini difokuskan pada beberapa sekolah di Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto guna menggali persepsi masyarakat terkait pelaksanaan program tersebut.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk menggali secara mendalam persepsi masyarakat terhadap program makan bergizi gratis untuk anak sekolah. Penelitian kualitatif dipilih karena mampu mengungkapkan pandangan, opini, serta pengalaman subjektif masyarakat secara lebih komprehensif. Waktu penelitian dilaksanakan pada 01 Juli – 01 Agustus 2025. Lokasi penelitian di Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto,
METODE PENELITIAN: Binamu dipilih sebagai lokasi karena merupakan kecamatan yang terbanyak sekolah menerapkan program Makan Bergizi Gratis. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan pelaksanaan program makan bergizi gratis untuk anak sekolah di wilayah Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto. Populasi meliputi 1. Orang tua/wali murid dari anak sekolah penerima program. 2. Guru dan tenaga pendidik di sekolah yang menjalankan program makan bergizi gratis. 3. Tokoh masyarakat di sekitar sekolah. 4. Perwakilan dari instansi pemerintah daerah yang terlibat, seperti Dinas Pendidikan atau Dinas Kesehatan. Dalam penelitian kualitatif, konsep sampel lebih mengacu pada informan yang dipilih secara purposive (bertujuan), bukan pengambilan sampel secara statistik. Kriteria informan yang dipilih meliputi 1. Orang tua/wali murid yang anaknya rutin mengikuti program makan bergizi gratis minimal selama 3 bulan terakhir. 2. Guru atau kepala sekolah yang berperan dalam pelaksanaan program. 3. Tokoh masyarakat seperti ketua RT/RW yang mengetahui dampak program di lingkungan sekolah. 4. Perwakilan dinas terkait yang mengetahui tujuan, pelaksanaan, dan evaluasi program. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui. 1. Wawancara mendalam (in-depth interview) dilakukan secara semi terstruktur kepada informan untuk menggali persepsi, pengetahuan, pengalaman, serta penilaian mereka terhadap program makan bergizi gratis. Observasi langsung, dilakukan di lokasi sekolah untuk mengamati secara langsung pelaksanaan program makan bergizi gratis, termasuk bagaimana anak-anak menerima makanan, fasilitas pendukung, serta interaksi antar pihak terkait. Dokumentasi, berupa pengumpulan dokumen atau arsip seperti foto kegiatan, laporan pelaksanaan program, dan dokumen pendukung lainnya. Teknik analisis data menggunakan analisis tematik dengan tahapan. 1. Reduksi Data: menyortir, memilih, dan menyederhanakan data hasil wawancara dan observasi agar fokus pada tema penelitian. 2. Penyajian Data: menyusun data dalam bentuk narasi deskriptif atau matriks agar memudahkan pemahaman pola-pola yang muncul dari persepsi masyarakat. 3. Penarikan Kesimpulan: menyimpulkan hasil penelitian berdasarkan tema-tema utama yang ditemukan selama proses pengumpulan dan analisis data. Data hasil penelitian akan disajikan secara deskriptif kualitatif, menggunakan kutipan langsung dari informan untuk memperkuat temuan, tabel tematik jika diperlukan, serta deskripsi naratif. Data akan disajikan secara runtut sesuai dengan tema-tema yang muncul dari hasil analisis, seperti manfaat program, kendala pelaksanaan, serta harapan masyarakat terhadap program makan bergizi gratis.

PEMBAHASAN: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai diperbincangkan oleh Bapak Prabowo Subianto pada Juli 2006 saat masih menjadi calon presiden dan menyoroti permasalahan stunting di Republik Indonesia. Saat itu, data menunjukkan bahwa sekitar 30% anak di bawah lima tahun mengalami kekurangan gizi yang berimplikasi mengalami kejadian stunting dan dianggap menjadi tantangan serius bagi pembangunan sumber daya manusia di negara ini. Berangkat dari persoalan tersebut, Prabowo kemudian menginisiasi gagasan program makan gratis yang diwujudkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) ketika menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Program ini menjadi salah satu prioritas nasional di era pemerintahan Prabowo–Gibran dengan sasaran utama anak-anak sekolah, pelajar, dan ibu hamil. Hal ini didukung oleh data Kementerian Kesehatan serta Kemenko PMK yang menyebutkan bahwa sekitar 41% siswa masih mengalami kelaparan saat berada di sekolah, yang berimplikasi pada menurunnya kualitas pendidikan (Merlinda & Yusuf, 2025 dalam (Kiftiyah et al., 2025)
Tujuan utama MBG tidak sekadar memberikan makanan, tetapi juga sebagai strategi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pemenuhan gizi sejak dini. Dengan gizi yang tercukupi, diharapkan daya konsentrasi, kesehatan, dan prestasi belajar anak meningkat. Pandangan ini sejalan dengan UNICEF (2023) yang menegaskan bahwa intervensi gizi dini merupakan faktor kunci dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pembangunan SDM.
Hasil penelitian di Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto tentang persepsi masyarakat terhadap program makan bergizi gratis menunjukkan bahwa program makan bergizi gratis (MBG) secara umum mendapatkan respon positif dari siswa, orang tua, maupun pihak sekolah. Program ini dinilai mampu meningkatkan semangat belajar siswa, memperbaiki kebiasaan makan sehat, serta meringankan beban ekonomi keluarga. Temuan ini sejalan dengan pendapat orang tua murid yang menilai program MBG bermanfaat dalam meningkatkan kesehatan dan kehadiran siswa di sekolah. Guru dan kepala sekolah pun menyampaikan bahwa siswa menunjukkan antusiasme tinggi terhadap program ini, meskipun terdapat kendala teknis seperti keterlambatan distribusi dan keterbatasan variasi menu. Temuan ini dapat dijelaskan melalui teori persepsi, khususnya konsep bahwa persepsi adalah proses kognitif seseorang dalam menafsirkan dan memberikan makna terhadap stimulus yang diterima (Robbins & Judge, 2017). Persepsi terhadap sebuah program dipengaruhi oleh faktor internal (pengalaman, motivasi, nilai, dan sikap individu) serta faktor eksternal (karakteristik program, informasi yang diterima, dan konteks sosial) (Schiffman & Wisenblit, 2015).
Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Kevin Andreas Halomoan Tambunan et al., 2025) yang mengemukakan bahwa pelaksanaan program makan bergizi gratis dinilai memberikan kenyamanan bagi peserta didik. Penelitian kevin ini dilaksanakan di SMKN 6 Medan dan menemukan bahwa sebagian besar siswa di sekolah tersebut berasal dari keluarga sederhana sehingga tidak jarang berangkat ke sekolah tanpa sarapan. Kehadiran program ini sekaligus berfungsi sebagai sarapan yang bergizi, sehingga kebutuhan nutrisi anak dapat terpenuhi. Dengan demikian, mereka dapat mengikuti pembelajaran dalam kondisi yang lebih tenang, aman, dan nyaman. Narasumber juga menekankan bahwa masih banyak anak-anak yang terbiasa tidak sarapan di rumah dan lebih memilih membeli jajanan kurang sehat. Program makan bergizi gratis di sekolah dipandang sebagai solusi yang efektif untuk mengurangi kebiasaan tersebut sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan dan konsentrasi belajar siswa.
Pada aspek peningkatan belajar siswa, penelitian yang dilakukan oleh (Kevin et al., 2025) menunjukkan adanya peningkatan kehadiran siswa di sekolah setelah diterapkannya program makan bergizi gratis. Siswa terlihat lebih antusias dan termotivasi untuk hadir ke sekolah, sehingga tingkat kehadiran menjadi lebih teratur dibandingkan sebelumnya. Temuan ini mengindikasikan bahwa program MBG tidak hanya berfungsi sebagai intervensi gizi, tetapi juga mampu memberikan dorongan psikologis bagi siswa untuk lebih bersemangat mengikuti kegiatan belajar. Narasumber penelitian juga menambahkan bahwa proses pembagian makanan berlangsung lancar serta mendapat respons positif dari siswa. Bagi sebagian besar siswa, terutama mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan akses makanan bergizi, program ini sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan nutrisi harian. Kendati demikian, dampak langsung terhadap capaian akademik seperti peningkatan nilai belum terlihat secara signifikan, sehingga membutuhkan waktu dan evaluasi lebih lanjut untuk mengukur pengaruh jangka panjang program MBG terhadap prestasi belajar siswa.
Sejalan dengan hasil penelitian ini, penelitian lain yang dilakukan oleh (Albaburrahim et al., 2025) menunjukkan adanya keterkaitan yang signifikan antara perbaikan status gizi dengan peningkatan kehadiran siswa di sekolah serta kemampuan konsentrasi dalam belajar. Berdasarkan data hasil penelitiannya, program makan bergizi terbukti mampu meningkatkan rata-rata kehadiran siswa sebesar 7% serta memberikan dampak positif terhadap capaian akademik, dengan peningkatan skor tes dasar pada mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia sekitar 5–10% Temuan ini menegaskan bahwa program MBG tidak hanya berfungsi untuk mengatasi persoalan kesehatan, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional. Dengan kata lain, pemenuhan gizi yang memadai bagi peserta didik dapat menjadi fondasi penting dalam membangun kualitas pembelajaran dan meningkatkan daya saing generasi muda Indonesia.
Masih sejalan dengan penelitian ini, hal serupa juga dikemukakan oleh penelitian yang dilakukan oleh (Merlinda & Yusmar Yusuf, 2025) yang menyimpulkan bahwa Secara keseluruhan, program pemberian makanan bergizi ini tidak hanya berfungsi sebagai kebijakan kesehatan tetapi juga sebagai alat untuk meningkatkan motivasi belajar siswa melalui peningkatan gizi. Respons masyarakat di berbagai platform mencerminkan bagaimana wacana publik terbentuk dan bagaimana masyarakat berinteraksi dengan kebijakan tersebut. Dengan memahami dinamika ini, kita dapat lebih baik mengevaluasi dampak program terhadap motivasi belajar siswa serta implikasinya dalam konteks pendidikan di Indonesia.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan ditemukan kelemahan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) dianggap tidak melibatkan pihak dinas kesehatan maupun tokoh masyarakat setempat. Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto sebagai instansi yang menjadi salah satu ujung tombak dalam penanggulangan masalah stunting sangat menyayangkan ketidakterlibatan mereka dalam melakukan monitoring dan evaluasi terkait program MBG, menurut pihak dinas kesehatan bahwa program MBG ini sebaiknya menjalin kemitraan antara dinas kesehatan terutama dengan pemilik dapur.
Secara teoritis, kemitraan dalam program kesehatan sangat penting karena dapat memperluas jangkauan layanan, meningkatkan efisiensi sumber daya, serta memperkuat kualitas pelayanan. Melalui kerja sama antara pemerintah, swasta, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan komunitas lokal, masyarakat lebih mudah memperoleh akses informasi dan layanan kesehatan yang memadai. Selain itu, kemitraan juga mendorong pemberdayaan masyarakat agar lebih aktif berpartisipasi serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap program yang dijalankan (Nurfardiansyah Bur et al., 2022)
Penelitian yang dilakukan oleh (Pradnyawati et al., 2022) mengenai program kemitraan masyarakat dalam pencegahan stunting di Desa Kerta Kecamatan Payangan Kabupaten Gianyar, menemukan bahwa adanya proses motoring dan evaluasi yang melibatkan kader posyandu sehingga terbangun efektivitas dari sebuah program.
Layaknya evektivitas program pada umumnya, walaupun program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menunjukkan berbagai keberhasilan, pelaksanaannya pun tidak terlepas dari sejumlah kendala salah satunya adalah keterlambatan distribusi makanan dan keterbatasan variasi menu yang senantiasa disajikan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilaksanakan oleh (Sari et al., 2025) yang mengemukakan bahwa terdapat tiga aspek utama kendala efektivitas program pemberian makanan bergizi gratis, diantaranya;
Pertama, aspek pendistribusian makanan masih menghadapi hambatan. Proses pengolahan bahan makanan membutuhkan waktu yang bervariasi, sehingga terkadang distribusi makanan kepada siswa mengalami keterlambatan. Kondisi ini berpotensi mengganggu jadwal makan yang seharusnya teratur dan berdampak pada efektivitas program.
Kedua, terdapat keterbatasan dalam jumlah penyedia jasa katering. Mengingat jumlah penerima program MBG relatif besar, kapasitas penyedia katering yang tidak sebanding dapat memengaruhi kualitas makanan yang dihasilkan maupun ketepatan waktu pendistribusian. Idealnya, jumlah penyedia layanan harus seimbang dengan jumlah penerima manfaat agar standar kualitas dan ketepatan distribusi dapat terjaga.
Ketiga, masih ditemukan kurangnya pengetahuan mengenai kandungan gizi dalam makanan yang disajikan. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan program tidak hanya membutuhkan tenaga penyedia makanan, tetapi juga pendampingan tenaga ahli gizi. Dengan adanya pengetahuan yang memadai mengenai kandungan nutrisi, menu yang diberikan kepada siswa dapat benar-benar memenuhi kebutuhan gizi mereka, bukan hanya sekadar menyediakan makanan.
Adanya beberapa temuan kendala pelaksanaan program ini di indikasikan karena seluruh anggaran pelaksanaannya bersember sepenuhnya dari anggaran pemerintah. Berbeda halnya dengan program pemberian makanan bergizi gratis di Jepang, yang dikenal dengan istilah Kyushoku. Dimana program tersebut tidak sepenuhnya dibiayai oleh anggaran pemerintah, melainkan juga mendapat dukungan dari kontribusi orang tua siswa. Program ini dijalankan berdasarkan regulasi yang ketat dengan sistem operasional yang beragam. Terdapat dua model utama, yakni sistem konvensional (dapur mandiri di sekolah) dan sistem komisariat (dapur terpusat). Masing-masing sistem memiliki kelebihan dan kekurangannya, baik dari sisi efisiensi maupun kualitas distribusi makanan. Keunggulan lain dari program Kyushoku adalah keterlibatan ahli gizi dalam penyusunan menu makanan, yang didasarkan pada standar gizi anak di Jepang. Hal ini menjadi salah satu faktor penting keberhasilan program, sekaligus dapat dijadikan referensi bagi pelaksanaan program MBG di Indonesia. Hasil survei terbaru mengenai Kyushoku juga menunjukkan bahwa pelaksanaannya tidak seragam di seluruh wilayah Jepang. Terdapat variasi dalam implementasi sesuai dengan kondisi daerah masing-masing, baik dari segi pendanaan, menu, maupun sistem distribusi.
Kondisi tersebut memberikan pelajaran penting bagi Indonesia. Mengingat adanya keragaman budaya, sosial-ekonomi, serta kebiasaan makan di setiap daerah, maka penerapan program MBG juga memerlukan fleksibilitas. Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi sumber daya pangan yang melimpah apabila dikelola dengan baik, sehingga program MBG berpeluang besar untuk berkembang secara berkelanjutan. Dengan belajar dari praktik di Jepang, Indonesia dapat memperkuat aspek regulasi, sistem distribusi, serta memastikan keterlibatan ahli gizi dalam perencanaan menu agar program benar-benar sesuai dengan kebutuhan peserta didik di berbagai wilayah.
Terlepas dari pembanding program pemberian makanan bergizi yang telah diterapkan di Indonesia dengan yang diterapkan di jepang, Secara umum, dapat disimpulkan bahwa program MBG khususnya yang telah dijalankan di Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto telah memiliki dampak positif dalam mendukung keberlanjutan pendidikan dan kesehatan anak. Untuk itu, perbaikan program ini perlu dibenahi pada aspek manajemen distribusi, variasi menu, serta penguatan peran sekolah dan orang tua dalam mendukung kebiasaan makan sehat.

KESIMPULAN: Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, maka dalam hal ini diperoleh beberapa kesimpulan bahwa bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara umum mendapat respon positif dari siswa, orang tua, dan pihak sekolah. Program ini terbukti mampu meningkatkan semangat belajar siswa, memperbaiki pola makan sehat, serta meringankan beban ekonomi keluarga. Selain itu, antusiasme siswa terhadap program cukup tinggi, meskipun masih dijumpai kendala teknis berupa keterlambatan distribusi dan keterbatasan variasi menu.
Namun, penelitian ini juga menemukan kelemahan dalam aspek pelaksanaan, yaitu kurangnya keterlibatan Dinas Kesehatan dan tokoh masyarakat setempat. Padahal, keberadaan Dinas Kesehatan sangat penting dalam upaya pengawasan gizi, monitoring, dan evaluasi program sebagai bagian dari strategi penanggulangan stunting. Untuk itu hasil penelitian ini menyarakankan bahwa keberhasilan dan keberlanjutan program MBG ke depan sangat bergantung pada terbangunnya kemitraan yang kuat antara pihak sekolah, penyedia makanan, Dinas Kesehatan, serta masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA:

Annan, R. A., Apprey, C., Asamoah Boakye, O., Okonogi, S., Yamauchi, T., & Sakurai, T. (2019). The Between Relationship Dietary Micronutrients Intake And Cognition Test Performance Among School-Aged Children In Government-Owned Primary Schools In Kumasi Metropolis, Ghana. Food Science and Nutrition, 7(9), 3042–3051. https://doi.org/10.1002/fsn3 .1162

Albaburrahim, Agus Purnomo, Putikadyanto, A., Efendi, A. N., Mochamad Arifin Alatas, Romadhon, S., & Wachidah, L. R. (2025). Program Makan Bergizi Gratis: Analisis Kritis Transformasi Pendidikan Indonesia Menuju Generasi Emas 2045. Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Dan Ilmu-Ilmu Sosial Institut Agama Islam Negeri Madura, Indonesia Https://Doi.Org/10.19105/Ejpis.V1i.19191. https://doi.org/10.19105/ejpis.v1i.19191

Auliawan, (2025). Kyushoku di Jepang Sebagai Referensi Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia. Department of Information and Culture, Vocational College Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia. Kiryoku, [9] (1), [2025], [Page 184 – 197] e-ISSN: 2581-0960, p-ISSN: 2599-0497 Available Online at http://ejournal.undip.ac.id/index.php/kiryoku.

Cohen, J. F. W., Hecht, A. A., McLoughlin, G. M., Turner, L., & Schwartz, M. B. (2021a). Universal school meals and associations with participation, student attendance, academic performance, diet quality, food security, and body mass index: A systematic review. Nutrients, 13(3), 1 41. https://doi.org/10.3390/nu13 030911.

Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah, (2025). Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Menyongsong Indonesia Emas 2045. Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Menyongsong Indonesia Emas 2045 – BPMP PROVINSI SUMATERA UTARA

Kevin Andreas Halomoan Tambunan, Ridha Nababan, Rimma Anisa Siagian, Roslin Naiborhu, Sintia Harianti, & Jamaludin Jamaludin. (2025). Tinjauan Kritis Tentang Program Makan Bergizi Gratis Terhadap Produktivitas Belajar Siswa. Katalis Pendidikan : Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Matematika, 2(2), 21–31. https://doi.org/10.62383/katalis.v2i2.1428

Kiftiyah, A., Palestina, F. A., Abshar, F. U., & Rofiah, K. (2025). Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam Perspektif Keadilan Sosial dan Dinamika Sosial – Politik. Pancasila: Jurnal Keindonesiaan, 5(1), 101–112. https://doi.org/10.52738/pjk.v5i1.726

Merlinda, A. A., & Yusmar Yusuf. (2025). Analisis Program Makan Gratis Prabowo Subianto Terhadap Strategi Peningkatan Motivasi Belajar Siswa di Sekolah Tinjauan dari Perspektif Sosiologi Pendidikan. Ranah Research : Journal of Multidisciplinary Research and Development, 7(2), 1364–1373. https://doi.org/10.38035/rrj.v7i2.1360

Nurfardiansyah Bur, Septiyanty Septiyanty, & Yusriani Yusriani. (2022). Program Kemitraan Masyarakat Kelompok Kader dalam Pencegahan Stunting Melalui Promosi Puding Daun Kelor Sebagai Alternatif Makanan Sehat. KREATIF: Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara, 2(4), 79–89. https://doi.org/10.55606/kreatif.v2i4.753

Pradnyawati, L. G., Ratna Juwita, D. A. P., Indra Wijaya, M., Hegard Sukmawati, N. M., & Eka Pratiwi, A. (2022). Program kemitraan masyarakat pencegahan stunting di Desa Kerta, Kecamatan Payangan. Warmadewa Minesterium Medical Journal, Vol.1 No.2(2), 50–55. https://www.ejournal.warmadewa.ac.id/index.php/wmmj/article/view/4978/3589

Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2017). Organizational behavior (17th ed.). Pearson.

Sari, N. K., Meals, F., Masyarakat, K., & Gratis, M. (2025). Efisiensi Makan Gratis Di Kecamatan Mojosongo Kabupaten Boyolali. 01(01), 56–63.

Schiffman, L. G., & Wisenblit, J. (2015). Consumer behavior (11th ed.). Pearson.

Saputri, M.et al., (2021). Pemeriksaan Gizi Pada Anak Usia Sekolah dan Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Sekolah Dasar Terpadu Al-Farabi Pondok Terong Cipayung Depok. Journal of Community Engagement in Health. Vol 4, No 1, Pp 82-85

Wulandari, F. (2023). Cegah Stunting, Kemenkes Fokuskan Pada 11 Program Intervensi. Cegah Stunting, Kemenkes Fokuskan Pada 11 Program Intervensi – Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan | BKPK Kemenkes.

Wuhan, Simarmata, Dangur, Putri, (2024). Pengabdian Masyarakat untuk Meningkatkan Kesadaran Gizi dan Mengurangi Angka Stunting pada Anak SD Inpres Naibonat. Program Studi Kedokteran Hewan, Universitas Nusa Cendana, Kupang, Indonesia. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN) e- ISSN: 2745 4053 Vol. 5 No. 2, 2024 |pp: 2087-2091 DOI: http://doi.org/10.55338/jpkmn.v5i2. 3021.

Zuercher, M. D., Orta-Aleman, D., Cohen, J. F. W., Hecht, C. A., Hecht, K., Polacsek, M., Patel, A. I., Ritchie, L. D., &

Gosliner, W. (2024). The Benefits and Challenges of Providing School Meals during the First Year of California’s Universal School Meal Policy as Reported by School Foodservice Professionals. Nutrients, 16(12). https://doi.org/10.3390/nu16 121812.

PENULIS:

(1) Hardianto Haris (2) Rama Nurkurniawan (3) Asril Bohari

Coresponding Author:

Name         : hardianto haris

Afiliate       : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Pancasakti

Address     : Jl. Andi Mangerangi No. 73 Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Prov. Sulawesi Selatan 90021 Email         : hardiantoharis6@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.